KMB-USU


 
IndeksPortalPendaftaranLogin
Affiliates
Latest topics
» Job Vacancies
Tue Dec 13, 2011 8:41 am by stevanuscolonne

» kost ternyaman di sekitar usu
Wed Oct 05, 2011 4:49 pm by shenlong

» Алексей Навальный - проект Кремля
Thu Aug 04, 2011 5:14 pm by Tamu

» the benefit of fish oil
Wed Aug 03, 2011 8:50 pm by Tamu

» Is this helpful?
Wed Aug 03, 2011 7:23 pm by Tamu

» hardcore lolicon blowjob
Wed Aug 03, 2011 11:46 am by Tamu

» i have hp photosmart printer, how can i delete everything.....back to the day i bought it .?
Wed Aug 03, 2011 11:23 am by Tamu

» shared
Wed Aug 03, 2011 9:20 am by Tamu

» Warranty
Tue Aug 02, 2011 10:29 pm by Tamu

Pencarian
 
 

Display results as :
 
Rechercher Advanced Search
Internet Messenger
Poll
Bagaimana keadaan kelas MPK Agama Buddha yang kalian inginkan?
Digabung semua
76%
 76% [ 71 ]
Dipisahkan menjadi 2
24%
 24% [ 23 ]
Total Suara : 94

Share | 
 

 Youngest professor from SUTOMO

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
Phoenix
Rank E
Rank E
avatar

Jumlah posting : 93
Age : 30
Registration date : 30.12.08

PostSubyek: Youngest professor from SUTOMO   Sat Jan 10, 2009 12:23 am

NAMA lengkapnya Prof Nelson Tansu PhD.
Setahun lalu, ketika baru berusia 25 tahun, dia diangkat menjadi
guru besar (profesor) di Lehigh University, Bethlehem, Pennsylvania 18015, USA.
Usia yang tergolong sangat belia dengan statusnya tersebut.
Kini, ketika usianya menginjak 26 tahun, Nelson tercatat sebagai
profesor termuda di universitas bergengsi wilayah East Coast, Negeri
Paman Sam, itu.

Sebagai dosen muda, para mahasiswa dan bimbingannya justru rata-rata
sudah berumur. Sebab, dia mengajar tingkat master (S-2), doktor (S-3),
bahkan post doctoral. Prestasi dan reputasi Nelson cukup berkibar
di kalangan akademisi AS. Puluhan hasil risetnya dipublikasikan
di jurnal-jurnal internasional. Dia sering diundang menjadi pemb icara utama
dan penceramah di berbagai seminar. Paling sering menjadi pembicara
dalam pertemuan-pertemuan intelektual, konferensi, dan seminar di Washington DC .
Selain itu, dia sering datang ke berbagai kota lain di AS. Bahkan, dia sering pergi
ke mancanegara seperti Kanada, sejumlah negara di Eropa, dan Asia.

Yang mengagumkan, sudah ada tiga penemuan ilmiahnya yang dipatenkan di
AS, yakni bidang semiconductor nanostructure optoelectronics devices
dan high power semiconductor lasers. Di tengah kesibukannya melakukan
riset-riset lainnya, dua buku Nelson sedang dalam proses penerbitan.
Bukan main. Kedua buku tersebut merupakan buku teks (buku wajib pegangan, Red)
bagi mahasiswa S-1 di Negeri Paman Sam. Karena itu, Indonesia layak bangga
atas prestasi anak bangsa di negeri rantau tersebut.

Lajang kelahiran Medan, 20 Oktober 1977, itu sampai sekarang masih
memegang paspor hijau berlambang garuda. Kendati belum satu dekade di AS,
prestasinya sudah segudang. Kemana pun dirinya pergi, setiap ditanya orang,
Nelson selalu mengenalkan diri sebagai orang Indonesia. Sikap Nelson itu
sangat membanggakan di tengah banyak tokoh kita yang malu mengakui
Indonesia sebagai tanah kelahirannya. "Saya sangat cinta tanah kelahiran saya.
Dan saya selalu ingin melakukan yang terbaik untuk Indonesia," katanya, serius.

Di Negeri Paman Sam, kecintaan Nelson terhadap negerinya yang dicap
sebagai terkorup di Asia tersebut dikonkretkan dengan memperlihatkan
ketekunan serta prestasi kerjanya sebagai anak bangsa. Saat berbicara
soal Indonesia, mimik pemuda itu terlihat sungguh-sungguh dan jauh dari basa-basi.
"Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dan merupakan bangsa yang
mampu bersaing dengan bangsa-bangsa besar lainnya. Tentu saja jika
bangsa kita terus bekerja keras," kata Nelson menjawab koran ini.

Adalah anak kedua di antara tiga bersaudara buah pasangan Iskandar Tansu
dan Lily Auw yang berdomisili di Medan, Sumatera Utara. Kedua orang tua Nelson
adalah pebisnis percetakan di Medan. Mereka adalah lulusan universitas
di Jerman. Abang Nelson, Tony Tansu, adalah master dari Ohio, AS.
Begitu juga adiknya, Inge Tansu, adalah lulusan Ohio State University (OSU).
Tampak jelas bahwa Nelson memang berasal dari lingkungan keluarga
berpendidikan. Posisi resmi Nelson di Lehigh University adalah assistant professor
di bidang electrical and computer engineering. Di AS, itu merupakan gelar untuk
guru besar baru di perguruan tinggi.
"Walaupun saya adalah profesor di jurusan electrical and computer engineering,
riset saya sebenarnya lebih condong ke arah fisika terapan dan
quantum electronics," jelasnya.

Sebagai cendekiawan muda, dia menjalani kehidupannya dengan tiada hari
tanpa membaca, menulis, serta melakukan riset. Tentunya, dia juga menyiapkan
materi serta bahan kuliah bagi para mahasiswanya. Kesibukannya tersebut, jika meminjam
istilah di Amerika, bertumpu pada tiga hal. Yakni, learning, teaching, and researching.
Boleh jadi, tak ada waktu sedikit pun yang dilalui Nelson dengan santai.
Di sana , 24 jam sehari dilaluinya dengan segala aktivitas ilmiah. Waktu yang
tersisa tak lebih dari istirahat tidur 4-5 jam per hari.

Anak muda itu memang enak diajak mengobrol. Idealismenya berkobar-kobar
dan penuh semangat. Layaknya profesor Amerika, sosok Nelson sangat bersahaja,
bahkan suka merendah. Busana kesehariannya juga tak aneh-aneh, yakni
mengenakan kemeja berkerah dan pantalon. Sekilas, dia terkesan pendiam.
Pengetahuan dan bobotnya serin g tersembunyi di balik penampilannya yang
seperti tak suka bicara. Tapi, ketika dia mengajar atau berbicara di konferensi
para intelektual, jati diri akademisi Nelson tampak.

Lingkungan akademisi, riset, dan kampus memang menjadi dunianya.
Dia selalu peduli pada kepentingan serta dahaga pengetahuan para
mahasiswanya di kampus.

Ada yang menarik di sini. Karena tampangnya yang sangat belia, tak sedikit
insan kampus yang menganggapnya sebagai mahasiswa S-1 atau program master.
Dia dikira sebagai mahasiswa umumnya. Namun, bagi yang mengenalnya, terutama
kalangan universitas atau jurusannya mengajar, begitu bertemu dirinya,
mereka selalu menyapanya hormat: Prof Tansu.

"Di semester Fall 2003, saya mengajar kelas untuk tingkat PhD tentang
physics and applications of photonics crystals. Di semester Spring 2004,
sekarang, saya mengajar kelas untuk mahasiswa senior dan master
tentang semiconductor device physics. Begitulah," ungkap Nelson
menjawab soal kegiatan mengajarnya.

September hingga Desember atau semester Fall 2004, jadwal mengajar
Nelson sudah menanti lagi. Selama semester itu, dia akan mengajar
kelas untuk tingkat PhD tentang applied quantum mechanics for
semiconductor nanotechnology. "Selain mengajar kelas-kelas di universitas,
saya membimbing beberapa mahasiswa PhD dan post-doctoral
research fellow di Lehigh University ini," jelasnya saat ditanya
mengenai kesibukan lainnya di kampus.

Nelson termasuk individu yang sukses menggapai mimpi Amerika (American
dream). Banyak imigran dan perantau yang mengadu nasib di negeri itu
dengan segala persaingannya yang superketat. Di Negeri Paman Sam
tersebut, ada cerita sukses seperti aktor yang kini menjadi Gubernur
California Arnold Schwarzenegger yang sebenarnya adalah imigran asal
Austria. Kemudian, dalam Kabinet George Walker Bush sekarang juga ada
imigrannya, yakni Mente ri Tenaga Kerja Elaine L. Chao. Imigran asal
Taipei tersebut merupakan wanita pertama Asian-American yang menjadi
menteri selama sejarah AS.

Negara Superpower tersebut juga sangat baik menempa bakat serta
intelektual Nelson. Lulusan SMA Sutomo 1 Medan itu tiba di AS pada
Juli 1995. Di sana, dia menamatkan seluruh pendidikannya mulai S-1
hingga S-3 di University of Wisconsin di Madison. Nelson menyelesaikan
pendidikan S-1 di bidang applied mathematics, electrical engineering,
and physics. Sedangkan untuk PhD, dia mengambil bidang electrical
engineering. Dari seluruh perjalanan hidup dan karirnya, Nelson
mengaku bahwa semua suksesnya itu tak lepas dari dukungan keluarganya.
Saat ditanya mengenai siapa yang paling berpengaruh, dia cepat
menyebut kedua orang tuanya dan kakeknya. "Mereka menanamkan mengenai
pentingnya pendidikan sejak saya masih kecil sekali," ujarnya.

Ada kisah menarik di situ. Ketika masih sekolah dasar, kedua orang
tuanya sering membanding-bandingkan Nelson dengan beberapa sepupunya
yang sudah doktor. Perbandingan tersebut seben arnya kurang pas. Sebab,
para sepupu Nelson itu jauh di atas usianya. Ada yang 20 tahun lebih
tua. Tapi, Nelson kecil menganggapnya serius dan bertekad keras
mengimbangi sekaligus melampauinya. Waktu akhirnya menjawab imipian
Nelson tersebut. "Jadi, terima kasih buat kedua orang tua saya. Saya
memang orang yang suka dengan banyak tantangan. Kita jadi terpacu,
gitu," ungkapnya. Nelson mengaku, mendiang kakeknya dulu juga ikut
memicu semangat serta disiplin belajarnya. "Almarhum kakek saya itu
orang yang sangat baik, namun agak keras.

Tetapi, karena kerasnya, saya malah menjadi lebih tekun dan berusaha
sesempurna mungkin mencapai standar tertinggi dalam melakukan
sesuatu," jelasnya.

Sisihkan 300 Doktor AS, tapi Tetap Rendah Hati Nelson Tansu menjadi
fisikawan ternama di Amerika. Tapi, hanya sedikit ya ng tahu bahwa
guru besar belia itu berasal dari Indonesia. Di sejumlah kesempatan,
banyak yang menganggap Nelson ada hubungan famili dengan mantan PM
Turki Tansu Ciller. Benarkah? Nama Nelson Tansu memang cukup unik.
Sekilas, sama sekali nama itu tidak mengindikasikan identitas etnis,
ras, atau asal negeri tertentu. Karena itu, di Negeri Paman Sam,
banyak yang keliru membaca, mengetahui, atau berkenalan dengan
profesor belia tersebut. Malah ada yang menduga bahwa dia adalah orang
Turki. Dugaan itu muncul jika dikaitkan dengan hubungan famili Tansu
Ciller, mantan perdana menteri (PM) Turki. Beberapa netters malah
tidak segan-segan mencantumkan nama dan kiprah Nelson ke dalam website
Turki. Seolah-olah mereka yakin betul bahwa fisikawan belia yang mulai
berkibar di lingkaran akademisi AS itu memang berasal dari negerinya
Kemal Ataturk.

Ada pula yang mengira bahwa Nelson adalah orang Asia Timur, tepatnya
Jepang atau Tiongkok . Yang lebih seru, beberapa universitas di Jepang
malah terang-terangan melamar Nelson dan meminta dia "kembali"
mengajar di Jepang. Seakan-akan Nelson memang orang sana dan pernah
mengajar di Negeri Sakura itu. Dilihat dari nama, wajar jika kekeliruan itu terjadi.
Begitu juga wajah Nelson yang seperti orang Jepang. Lebih-lebih di Amerika
banyak profesor yang keturunan atau berasal dari Asia Timur dan
jarang-jarang memang asal Indonesia. Nelson pun hanya senyum-senyum
atas segala kekeliruan terhadap dirinya. "Biasanya saya langsung mengoreksi.
Saya jelaskan ke mereka bahwa saya asli Indonesia. Mereka memang agak
terkejut sih karena memang mungkin jarang ada profesor asal aslinya
dari Indonesia,"jelas Nelson. Tansu sendiri sesungguhnya bukan marga kalangan Tionghoa.
Memang, nenek moyang Nelson dulu Hokkien, dan marganya adalah Tan.
Tapi, ketika lahir, Nelson sudah diberi nama belakang "Tansu",
sebagaimana ayahnya, Iskandar Tansu. "Saya suka dengan nama Tansu,
kok, " kata Nelson dengan nada bangga.

Nelson adalah pemuda mandiri. Semangatnya tinggi, tekun, visioner, dan
selalu mematok standar tertinggi dalam kiprah riset dan dunia
akademisinya. Orang tua Nelson hanya membiayai hingga tingkat S-1.
Selebihnya? Berkat keringat dan prestasi Nelson sendiri. Kuliah
tingkat doktor hingga segala keperluan kuliah dan kehidupannya
ditanggung lewat beasiswa universitas. "Beasiswa yang saya peroleh
sudah lebih dari cukup untuk membiayai semua kuliah dan kebutuhan di
universitas," katanya.

Orang seperti Nelson dengan prestasi akademik tertinggi memang tak
sulit memenangi berbagai beasiswa. Jika dihitung-hitung, lusinan
penghargaan dan anugerah beasiswa yang pernah dia raih selama ini di
AS. Menjadi profesor di Negeri Paman Sam memang sudah menjadi cita-
cita dia sejak lama. Walau demikian, posisi assistant professor
(profesor muda, Red) tak pernah terbayangkannya bisa diraih p ada usia
25 tahun. Coba bandingkan dengan lingkungan keluarga atau masyarakat
di Indonesia, umumnya apa yang didapat pemuda 25 tahun? Bahkan, di AS
yang negeri supermaju pun reputasi Nelson bukan fenomena umum.
Bayangkan, pada usia semuda itu, dia menyandang status guru besar.
Sehari-hari dia mengajar program master, doktor, dan bahkan post
doctoral. Yang prestisius bagi seorang ilmuwan, ada tiga riset Nelson
yang dipatenkan di AS.

Kemudian, dua buku teksnya untuk mahasiswa S-1 dalam proses
penerbitan. Tapi, bukan Nelson Tansu namanya jika tidak santun dan
merendah.

Cita-citanya mulia sekali. Dia akan tetap melakukan riset-riset yang
hasilnya bermanfaat buat kemanusian dan dunia. Sebagai profesor di AS,
dia seperti meniti jalan suci mewujudkan idealisme tersebut. Ketika
mendengar pengakuan cita-cita sejatinya, siapa pun pasti akan
terperanjat. Cukup fenomenal. "Sejak SD kelas 3 atau kelas 4 di M edan,
saya selalu ingin menjadi profesor di universitas di Amerika Serikat.
Ini benar-benar saya cita-citakan sejak kecil," ujarnya dengan mimik
serius. Tapi, orang bakal mahfum jika melihat sejarah hidupnya. Ketika
usia SD, Nelson kecil gemar membaca biografi para ilmuwan-fisikawan AS
dan Eropa. Selain Albert Einstein yang menjadi pujaannya, nama-nama
besar seperti Werner Heisenberg, Richard Feynman, dan Murray Gell-Mann
ternyata sudah diakrabi Nelson cilik. "Mereka hebat. Dari bacaan
tersebut, saya benar-benar terkejut, tergugah dengan prestasi para
fisikawan luar biasa itu. Ada yang usianya muda sekali ketika meraih
PhD, jadi profesor, dan ada pula yang berhasil menemukan teori yang
luar biasa. Mereka masih muda ketika itu," jelas Nelson penuh kagum.

Nelson jadi profesor muda di Lehigh University sejak awal 2003. Untuk
bidang teknik dan fisika, universitas itu termasuk unggulan dan papan
atas di kawasan East Coast, Negeri Paman Sam. Untuk menjadi profesor
di Lehigh, Nelson terlebih dahulu menyisihkan 300 doktor yang resume
(CV)-nya juga hebat-hebat. "Seleksinya ketat sekali, sedangkan posisi
yang diperebutkan hanya satu," ujarnya. Lelaki penggemar buah-buahan
dan masakan Padang itu mengaku lega dan beruntung karena dirinya yang
terpilih. Menurut Nelson, dari segi gaji dan materi, menjadi profesor
di kampus top seperti yang dia alami sekarang sudah cukup lumayan.
Berapa sih lumayannya? "Sangat bersainglah. Gaji profesor di
universitas private terkemuka di Amerika Serikat adalah sangat
kompetitif dibandingkan dengan gaji industri. Jadi, cukup baguslah,
he...he...he...," katanya, menyelipkan senyum.

Riwayat hidup dan reputasinya memang wow. Nelson sempat menjadi
incaran dan malah "rebutan" kalangan universitas AS dan mancanegara.
Ada yang menawari jabatan associate professor yang lebih tinggi
daripada yang dia sandang sekarang (assistant professor). Ada pula
yang menawari gaji dan fasilitas yang lebih heboh daripada Lehigh
University. Tawaran-tawaran menggiurkan itu datang dari AS, Kanada,
Jerman, dan Taiwan serta berasal dari kampus-kampus top. Semua datang
sebelum maupun sesudah Nelson resmi mengajar di Lehigh University.
Tapi, segalanya lewat begitu saja. Nelson memilih konsisten, loyal,
dan komit dengan universitas di Pennsylvania itu. Tapi, tentu ada
pertimbangan yang lain.

"Saya memilih ini karena Lehigh memberikan dana research yang sangat
signifikan untuk bidang saya, semiconductor nanostructure
optoelectronic devices. Lehigh juga memiliki leaderships yang sangat kuat
dan berambisi tinggi menaikkan reputasinya dengan memiliki para profesor
paling berpotensi dan ternama untuk melakukan riset.
Kembali Ke Atas Go down
Clone
Rank D
Rank D
avatar

Jumlah posting : 188
Age : 29
Lokasi : Medan
Registration date : 02.01.09

PostSubyek: Re: Youngest professor from SUTOMO   Sat Jan 10, 2009 7:50 am

Mantap ko
Tp ada fotonya gk?
Mana tau itu abangku yang menghilang?
Abangku dulu 1 jurusan ma wa, tu kan dia electrical and computer engineering. haha haha haha
Kembali Ke Atas Go down
Phoenix
Rank E
Rank E
avatar

Jumlah posting : 93
Age : 30
Registration date : 30.12.08

PostSubyek: Re: Youngest professor from SUTOMO   Sat Jan 10, 2009 8:26 am

Sygnya kagak ad Bud..

Tp gk mgkn la tu abang u Bud...

Klo tu abang u...

Tar org Amrik kira org Medan itam smua.... hahahha
arrogant arrogant
Kembali Ke Atas Go down
concrete
Lord of the Land (Admin)
Lord of the Land (Admin)
avatar

Jumlah posting : 190
Age : 27
Registration date : 25.12.08

PostSubyek: Re: Youngest professor from SUTOMO   Sat Jan 10, 2009 9:44 pm

haha haha


whahaha....gawat x ne ko eka....wkkk
Kembali Ke Atas Go down
DenisuRaito
Rank B (General Poster)
Rank B (General Poster)
avatar

Jumlah posting : 422
Age : 27
Lokasi : Medan
Registration date : 27.12.08

PostSubyek: Re: Youngest professor from SUTOMO   Sat Jan 10, 2009 10:43 pm

wakaka.... haha haha haha haha
Kembali Ke Atas Go down
Phoenix
Rank E
Rank E
avatar

Jumlah posting : 93
Age : 30
Registration date : 30.12.08

PostSubyek: Re: Youngest professor from SUTOMO   Sun Jan 11, 2009 8:06 pm

No offense ya Bud..
.
haha haha haha
Kembali Ke Atas Go down
Clone
Rank D
Rank D
avatar

Jumlah posting : 188
Age : 29
Lokasi : Medan
Registration date : 02.01.09

PostSubyek: Re: Youngest professor from SUTOMO   Wed Jan 14, 2009 8:00 am

Awas kau ko eka
Kembali Ke Atas Go down
Sponsored content




PostSubyek: Re: Youngest professor from SUTOMO   

Kembali Ke Atas Go down
 
Youngest professor from SUTOMO
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
KMB-USU :: Warung Kopi :: Kongkow Kongkow :: Serba Serbi Dunia-
Navigasi: