KMB-USU


 
IndeksPortalPendaftaranLogin
Affiliates
Latest topics
» Job Vacancies
Tue Dec 13, 2011 8:41 am by stevanuscolonne

» kost ternyaman di sekitar usu
Wed Oct 05, 2011 4:49 pm by shenlong

» Алексей Навальный - проект Кремля
Thu Aug 04, 2011 5:14 pm by Tamu

» the benefit of fish oil
Wed Aug 03, 2011 8:50 pm by Tamu

» Is this helpful?
Wed Aug 03, 2011 7:23 pm by Tamu

» hardcore lolicon blowjob
Wed Aug 03, 2011 11:46 am by Tamu

» i have hp photosmart printer, how can i delete everything.....back to the day i bought it .?
Wed Aug 03, 2011 11:23 am by Tamu

» shared
Wed Aug 03, 2011 9:20 am by Tamu

» Warranty
Tue Aug 02, 2011 10:29 pm by Tamu

Pencarian
 
 

Display results as :
 
Rechercher Advanced Search
Internet Messenger
Poll
Bagaimana keadaan kelas MPK Agama Buddha yang kalian inginkan?
Digabung semua
76%
 76% [ 71 ]
Dipisahkan menjadi 2
24%
 24% [ 23 ]
Total Suara : 94

Share | 
 

 [Jadul] Tetek ibu di angkot

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
sulim
Newbie
Newbie


Jumlah posting : 41
Age : 31
Registration date : 05.01.09

PostSubyek: [Jadul] Tetek ibu di angkot   Sat Jan 10, 2009 12:24 am

ni saya kutip dari blog-nya Beni Suryadi di:
http://benisuryadi.wordpress.com/2006/08/14/tetek-ibu-di-angkot/
ybs menuangkan unek-uneknya di blog tsb. Menarik juga dibaca.
-----------------------------------------------------

Menyaksikan seorang Ibu yang mengeluarkan teteknya untuk menyusui si
bayi di tempat umum mungkin perilaku yang masih jamak terjadi di
lingkungan kita, di angkot, di terminal, di mall, di kantor, dll.
Perilaku ini tidaklah melanggar UU Anti Pornograpi dan Pornoaksi,
karena toh sampai sekarang tidak ada satu Ibu pun yang didemo atau
ditangkap gara-gara menyusui sang anak di tempat umum.

Terus terang sampai sekarang saya tidak habis pikir kenapa banyak
sang Ibu yang dengan santainya menyusui bayinya di tempat umum.
Namun tidak sekalipun perilaku tersebut memancing pikiran kotor
saya. Buat saya aura kasih sayang yang terpancar dari seorang Ibu
yang menyusui anaknya begitu kuat terasa, dan saya sangat
menghormati hal tersebut. Jadi bisa disimpulkan bahwa hubungan saya
dengan Ibu-Ibu yang menyusui anaknya ditempat umum baik-baik saja,
sampai kejadian sore kemaren yang saya alami di sebuah angkot
sepulang dari tempat teman saya di pinggiran kota Bandung.

Awalnya di angkot yang saya tumpangi tersebut hanya ada saya dan
seorang Ibu muda, dengan dua anak perempuannya yang masih kecil dan
seorang bayi yang terlelap begitu nyenyak dipelukan Ibunya. Tak lama
kemudian naik beberapa orang Ibu-Ibu usia empat puluhan. Disusul
seorang perempuan muda. Baru sebentar berjalan, naik lagi beberapa
Ibu-Ibu, dua orang memilih duduk di depan dan sisanya di belakang.
Sehingga penuhlah penumpang di angkot tersebut. Dari semua penumpang
di angkot tersebut, saya adalah penumpang yang paling tampan karena
saya adalah satu-satunya laki-laki.

Dari pada bengong di angkot atau menguping Ibu-Ibu itu bergosip ria,
saya mengeluarkan sebuah buku untuk di baca. Suasana di angkot
tersebut riuh sekali. Sesuatu yang wajar jika para Ibu-Ibu
berkumpul, pikir saya. Namun tiba-tiba saja hati saya merasa risih
ketika secara tidak sengaja saya mendengar pembicaraan para Ibu-Ibu
tersebut. Salah seorang dari Ibu-Ibu tersebut mengomentari si Ibu
muda yang tampak kerepotan mengawasi dua anaknya yang saling
berantem rebutan makanan, sedang bayi dalam dekapannya tampak mulai
merengek.

Seakan dikomando, Ibu-Ibu yang lain juga saling lomba untuk turut
mengomentari. Masih muda kok mau-maunya punya anak segini banyak,
masih kecil-kecil dan jaraknya dekat-dekat. Memangnya tidak ikutan
KB?. Memangnya si suami tidak mikir apa kalau berhubungan seks itu
bisa menghasilkan anak?.

Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba saja percakapan tersebut
seakan menjadi percakapan para perempuan korban laki-laki. Menurut
mereka laki-laki itu seenak nafsunya saja. Berhubungan seks
sesukanya. Pernyataan ini ditimpali oleh seorang Ibu yang juga
kewalahan menghadapi si suami, yang setiap pulang kerja pasti
meminta berhubungan badan. Tak peduli dia sedang di dapur atau
sedang menonton tv. Ada juga yang bercerita bahwa ketika sudah
berbadan dua, sang suami tetap mengajak berhubungan badan. Tidak
memikirkan kita-kita kaum Ibu yang harus bersusah payah lebih dari
sembilan bulan gara-gara perbuatan si suami. Melahirkan, menyusui
dan membesarkan anak. Gara-gara itu berat badan naik, kulit jadi
keriput, tersiksa sendirian. Kalau tidak diladeni, bisa-bisa suami
kecantol perempuan lain atau main ke tempat pelacuran. Di otak laki-
laki yang ada hanya seks saja. Terus terang saya merasa risih juga
mendengar obrolan para Ibu-Ibu tersebut, tapi tentu saja mencari
mati namanya jika saya menentang pendapat para Ibu-Ibu tersebut.

Mungkin karena terganggu dengan celotehan si Ibu-Ibu yang begitu
kerasnya, sang bayi terbangun dan menangis. Ibunya berusaha untuk
meredakan tangis bayinya. Namun yang ada tangisan si bayi semakin
keras. Kondisi ini lagi-lagi menjadi bahan buat para Ibu-Ibu
tersebut. Si Ibu tersebut sendirian mengurusin tiga orang anaknya
yang masih kecil-kecil sedangkan si suami entah kemana.

Ibu muda tersebut hanya tersenyum sambil terus mencoba untuk
meredakan tangis bayinya. Namun karena tak jua reda, si Ibu yang
kebetulan duduknya di depan saya, mungkin mengira bayinya tersebut
kehausan sehingga dia memutuskan untuk mengeluarkan teteknya untuk
menyusui bayinya.

Belum lama si bayi menetek di susu Ibunya, tiba-tiba ada suara Ibu-
Ibu yang laksana petir di siang bolong. Tiba-tiba saja seorang Ibu-
Ibu menuduh bahwa begitu melihat tetek si Ibu tersebut, pasti saat
itu muncul pikiran kotor di otak saya. Tak disangka ternyata itu
adalah pintu petaka buat saya. Belum sempat saya untuk kaget, tiba-
tiba segerombolan komentar pedas menghujam. Seakan akan para Ibu itu
ingin melampiaskan kekesalan mereka terhadap kaum laki-laki yang
hanya memikirkan seks semata melalui saya. Tidak bisa sedikit saja
melihat paha tersingkap, bokong besar dan payudara perempuan di
jalan. Padahal istri di rumah sudah menyediakan segalanya.

Sebelum saya menjadi bulan-bulanan para Ibu-Ibu tersebut saya
meminta angkot tersebut untuk berhenti, bayar ongkos lalu pindah ke
angkot lain. Untuk berargumen secara langsung dengan para Ibu-Ibu
tersebut jelas bukanlah opsi yang bisa dipilih. Itulah mengapa saya
memutuskan untuk menuliskan kisah ini.

Perlu saya sampaikan bahwa tidak sedikitpun saya akan berpikiran
kotor jika melihat ada Ibu-Ibu yang menetekkan anaknya di muka umum
karena saya sangat menghargai dan menghormati para Ibu-Ibu tersebut.
Dan saya memang tidak mengetahui permasalahan apa yang Ibu-Ibu alami
dengan para suami di rumah, tapi ingat tidak semua laki-laki seperti
itu. Masih banyak laki-laki yang bisa menjadi suami yang bisa
menempatkan rasa cinta, kasih sayang dan tanggung jawab di atas
kebutuhan seks semata dan Insya Allah saya salah satunya, nanti.

Ketika saya bercerita kepada bapak Kost saya, beliau malah
berkata, "wajar saja Ben, setiap pulang kerja suami ingin dipuaskan
nafsunya, karena seharian, ga di jalan, ga di kantor, mereka melihat
paha dan payudara yang tersingkap dimana-mana".
Ya elah Bapak, bukan itu maksud cerita saya, tapi ya sudahlah toh
saya tidak yakin juga Ibu-Ibu tersebut akan sempat baca tulisan ini.
Kembali Ke Atas Go down
http://titipan.org
DenisuRaito
Rank B (General Poster)
Rank B (General Poster)


Jumlah posting : 422
Age : 26
Lokasi : Medan
Registration date : 27.12.08

PostSubyek: Re: [Jadul] Tetek ibu di angkot   Sat Jan 10, 2009 10:38 pm

Wah!! Apa begitu cara berpikir semua cew???
welewele..
Kembali Ke Atas Go down
 
[Jadul] Tetek ibu di angkot
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
KMB-USU :: Warung Kopi :: Kongkow Kongkow-
Navigasi: