Latest topics
» Job Vacancies
Tue Dec 13, 2011 8:41 am by stevanuscolonne

» kost ternyaman di sekitar usu
Wed Oct 05, 2011 4:49 pm by shenlong

» Алексей Навальный - проект Кремля
Thu Aug 04, 2011 5:14 pm by Tamu

» the benefit of fish oil
Wed Aug 03, 2011 8:50 pm by Tamu

» Is this helpful?
Wed Aug 03, 2011 7:23 pm by Tamu

» hardcore lolicon blowjob
Wed Aug 03, 2011 11:46 am by Tamu

» i have hp photosmart printer, how can i delete everything.....back to the day i bought it .?
Wed Aug 03, 2011 11:23 am by Tamu

» shared
Wed Aug 03, 2011 9:20 am by Tamu

» Warranty
Tue Aug 02, 2011 10:29 pm by Tamu


Display results as :
Rechercher Advanced Search
Internet Messenger
Bagaimana keadaan kelas MPK Agama Buddha yang kalian inginkan?
Digabung semua
 76% [ 71 ]
Dipisahkan menjadi 2
 24% [ 23 ]
Total Suara : 94

Share | 

 The Sword of Wood - Pedang Kayu

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 

Jumlah posting : 41
Age : 31
Registration date : 05.01.09

PostSubyek: The Sword of Wood - Pedang Kayu   Mon Jan 05, 2009 10:49 pm

The Sword of Wood

There was once a king who loved nothing better than to go out alone in the clothes of a commoner. He wanted to meet the ordinary people of his kingdom--to learn their way of life, and especially their way of thinking about the world. One night, this king found himself walking in the poorest, narrowest street of the city. This was the street of the Jews. He heard a song in the distance. The king thought, "A song sung in this place of poverty must be a lament!" But as he got closer, he could hear the true character of the song: it was a song of pride! "Bai-yum-dum, bai-yum-bai, yum-bai, bai...."

The king was drawn to the source of the song: the smallest, humblest shack on that street. He knocked on the door. "Is a stranger welcome here?"

The voice from within said, "A stranger is G-d's gift. Come in!"

In the dim light inside, the king saw a man sitting on the only piece of furniture, a wooden box. When the king came in, the man stood up and sat on the floor, offering the king the crate for a seat.

"Well, my friend," the king asked, "what do you do to earn a living?"

"Oh, I am a cobbler."

"You have a shop where you make shoes?"

"Oh, no, I could not afford a shop. I take my box of tools--you are sitting on it--to the side of the road. There I repair shoes for people as they need them."

"You cobble shoes by the side of the road? Can you make enough money that way?"

The cobbler spoke with both humility and pride. "Every day, I make just enough money to buy food for that day."

"Just enough for one day? Aren't you afraid that one day you won't make enough, and then you'll go hungry?"

"Blessed be G-d, day by day."

The next day, the king determined to put this man's philosophy to the test. He issued a proclamation that anyone wishing to cobble shoes by the side of the road must purchase a license for fifty pieces of gold.

That night, the king returned to the street of the Jews. Again he heard a song in the distance, and thought, "This time, the cobbler will be singing a different tune." But when the king neared the house he heard the cobbler sing the same song. Worse, it was even longer, with a new phrase that soared joyfully: "Ah, ha-ah-ah, ah-hah, ah-hah, ah-yai."

The king knocked on the door. "Oh, my friend, I heard about that wicked king and his proclamation. I was so worried about you. Were you able to eat today?"

"Oh, I was angry when I heard I could not make my living in the way I always have. But I knew: I am entitled to make a living and I will find a way. As I stood there saying those very words to myself, a group of people passed me by. When I asked them where they were going, they told me: into the forest to gather fire wood. Every day, they bring back wood to sell as kindling. When I asked if I could join them, they said, 'There is a whole forest out there. Come along!'

"And so I gathered fire wood. At the end of the day, I was able to sell it for just enough money to buy food for today."

The king sputtered. "Just enough for one day? What about tomorrow? What about next week?"

"Blessed be G-d, day by day."

The next day, the king again returned to his throne, and issued a new proclamation: anyone caught gathering firewood in the royal forest would be inducted into the royal guard. For good measure, he issued another: no new members of the royal guard would be paid for forty days.

That night, the king returned to the street of the Jews. Amazed, he heard the same song! But now, it had a third part that was militant and determined: "Dee, dee, dee, dee-dee, dee-dee, dah...."

The king knocked on the door. "Cobbler, what happened to you today?"

"They made me stand at attention all day in the royal guard! They issued me a sword and a scabbard. But then they told me I wouldn't be paid for forty days!"

"Oh, my friend, I bet you wish now that you had saved some money."

"Well, let me tell you what I did. At the end of the day, I looked at that metal sword blade. I thought to myself, that must be valuable! So I removed the blade from the handle, and fashioned another blade of wood. When the sword is in the scabbard, no one can tell the difference. I took the metal blade to a pawnbroker, and I pawned it for just enough money to buy food for one day."

The king was stunned. "What if there's a sword inspection tomorrow?"

"Blessed be G-d, day by day."

The next day, the cobbler was pulled out of line in the king's guard. He was presented with a prisoner in chains.

"Cobbler, this man has committed a horrible crime. You are to take him to the square. Using your sword, you are to behead him."

"Behead him? I'm an observant Jew. I couldn't take another human life."

"If you do not, we'll kill both of you."

The cobbler led this poor, trembling man into the square, where a crowd had gathered to watch the execution. The cobbler put the prisoner's head on the chopping block. He stood tall, his hand on the handle of his sword. Facing the crowd, he spoke.

"Let G-d be my witness: I am no murderer! If this man is guilty as charged, let my sword be as always. But if he is innocent, let my sword turn to wood!"

He pulled his sword. The people gasped when they saw the wooden blade. They bowed down at the great miracle that had happened there.

The king, who had been watching all of this, came over to the cobbler. He took him by both his hands, and looked him deep in the eyes. "I am the king. And I am your friend who has visited you these last nights. I want you to come live with me in the palace and be my advisor. Please teach me how to live like that--one day at a time."

Then, in front of everyone, the two of them danced and sang: "Bai-yum-dum, bai-yum-bai, yum-bai, bai...."

Source: Hasidic Stories
Retold by: Doug Lipman


Pedang Kayu

Suatu zaman dahulu ada seorang raja yang senang sekali berkelana ke jalan-jalan penduduk berpakaian awam dan biasa sebagaimana penduduk lainnya. Dia senang bertemuan dengan orang-orang biasa yang hidup dalam kerajaannya - untuk belajar dari cara hidup mereka dan terutama dari cara pandang mereka. Suatu malam, sang raja ini kebetulan sedang berjalan di lorong jalan kota yang paling miskin dan sempit, jalanan miskin orang Yahudi. Tak disangka dia mendengar sebuah lagu dari kejauhan. Sang raja terpikir, "Serangkai lagu apapun yang dinyanyikan ditempat semiskin ini pastilah lagu sedih ataupun ketidakbahagiaan!" Namun semakin dia dekati, semakin jelas bisa didengarkannya lagu itu: oh!ternyata lagu bahagia! "Bai-yum-dum, bai-yum-bai, yum-bai, bai..."

Sang raja semakin tertarik ke arah sumber lagu itu: sebuah gubuk kecil sederhana diujung jalan. Dia ketok pintu gubuk itu. "Apakah orang asing boleh masuk kesini?", tanyanya dengan rendah hati.

Sebuah suara dari dalam berkata, "Seorang asing adalah hadiah dari Tuhan. Mari masuk!"

Dalam cahaya remang-remang didalam, sang raja hanya melihat seorang lelaki yang sedang duduk dikotak kayu sederhana, satu-satunya perabot digubuk itu. Ketika sang raja masuk, lelaki itu berdiri dan duduk dilantai, memberi kotak kayunya untuk diduduki sang raja.

"Wahai saudaraku," tanya sang raja, "apa pekerjaan kamu untuk menafkahi dirimu?"

"Oh, saya adalah seorang tukang sepatu."

"Kamu punya toko dimana kamu membuat sepatu?"

"Oh, tidak, saya tidak sanggup membeli toko. Saya biasanya cuman ambil kotak kayu berisi perlengkapan saya yang sedang anda duduki itu ke pinggir jalan. Lalu darisana saya perbaiki sepatu orang-orang yang lewat dan memerlukan."

"Anda memperbaiki sepatu di tepi jalan? Apa bisa menghasilkan cukup uang seperti itu?"

Si tukang sepatu berkata dengan rendah hati dan penuh kebanggaan, "Setiap hari, saya menghasilkan uang cukup pas sekali untuk membeli makan buat dihari itu."

"Hanya cukup untuk satu hari? Tidakkah engkau risau bila suatu hari kamu tidak menghasilkan cukup uang untuk makan di hari itu?"

"Iya, terpujilah Tuhan, cukup untuk hari ke hari."

Esok harinya, sang raja menjadi ingin menguji filosofi hidup orang ini. Dia perintahkan surat perintah agar siapapun yang hendak memperbaiki sepatu ditepian jalan harus membeli surat izin seharga 50 keping emas.

Malamnya, sang raja kembal. ke tempat si Yahudi itu. Kembali dia mendengar lagu dari jauh, dan berpikir, "Kali ini pastilah dia menyanyikan lagu kesedihan." Namun ketika sang raja mendekat, ternyata si tukang sepatu masih saja menyanyikan lagu yang sama. Parahnya lagi, dinyanyikannya dengan lebih panjang dan lebih riang dari sebelumnya: "Ah, ha-ah-ah, ah-hah, ah-hah, ah-yai."

Sang raja mengetuk pintu, "Oh saudaraku, saya dengar hari ini raja jahat itu mengedarkan surat larangan. Saya begitu kuatir akan dirimu. Dapatkah kamu makan hari ini?"

"Oh, saya juga waktu itu marah begitu mengetahui saya tidak bisa lagi berpenghasilan sebagaimana biasanya saya dulu. Namun saya tahu, sudah sepantasnya saya bisa menafkahi diri dan saya pasti akan menemukan jalan keluar. Sambil mengatakan kata-kata itu dalam hati, sekelompok orang melewati saya. Ketika saya tanyakan mereka hendak kemana, mereka berkata bahwa mereka hendak ke hutan mengumpukan kayu bakar. Setiap hari mereka akan pulang membawa kayu-kayuan itu untuk dijual. Ketika saya bertanya apakah saya boleh ikut bergabung dengan mereka, mereka menyambut dengan senang.

"Jadi saya pun mengumpulkan kayu-kayuan. Dipenghujung hari, sayapun berhasil menjualnya pas cukup untuk membeli makan dihari itu."

"Hanya cukup untuk satu hari? Bagaimana dengan besok? Bagaimana dengan minggu depannya?"

"Terpujilah Tuhan, hari demi hari."

Esok harinya, sang raja kembali ke tahtanya dan mengeluarkan surat edaran baru: siapapun yang tertangkap mengumpulkan kayu-kayuan dihutan akan ditahan oleh pengawal kerajaan. Untuk mengantisipasi, dia juga mengeluarkan surat perintah: anggota baru pegawal kerajaan tidak akan dibayar selama 40 hari awal.

Malamnya, sang raja kembali ke tempat si tukang sepatu. Terheran-heran, dia mendengar lagu yang sama lagi! Bahkan ditambahkan dengan bagian ketiga: "Dee, dee, dee, dee-dee, dee-dee,dah..."

Sang raja mengetuk pintu gubuk itu,"Saudaraku tukang sepatu, apa yang terjadi denganmu hari ini?"

"Saya ditahan dan dihukum berdiri tegap sepanjang hari! Mereka memberi saya pedang dan sarungnya, namun mereka bilang saya tidak akan dibayar untuk 40 hari pertama!"

"Oh, saudaraku, pastilah engkau menyesal hendaknya dirimu menyimpan sedikit uang lebih."

Esok harinya si tukang sepatu dipanggil keluar dari jajaran pengawal kerajaan. Dia dihadapkan pada seorang tahanan yang dirantai.

"Pengawal, lelaki ini telah melakukan kejahatan besar. Bawalah dia ke lapangan tengah. Dengan pedang kamu, penggallah kepalanya."

"Memenggalnya? Saya adalah seorang Yahudi yang taat. Saya tidak bisa mengambil nyawa orang lain."

"Ya, tapi mari saya ceritakan dulu apa yang saya lakukan. Dipenghujung hari, saya lihat-lihat pedang baja itu. Saya lihat sepertinya cukup bernilai! Jadi saya pisahkan pedangnya dari pegangannya dan sebagai gantinya saya pasang pedangnya dari kayu. Ketika pedangnya disimpan ke sarung, tidak ada yang bisa tahu perbedaannya. Penghunus pedangnya saya jual ke tukang gadai, dan saya gadaikan dengan cukup uang untuk membeli makanan dihari itu."

Sang raja terkejut tidak percaya, "Namun bagaimana kl besok ada pemeriksaan pedang?"

"Terpujilah Tuhan, hari demi hari."

"Bila kamu tidak melakukannya, kami akan bunuh kalian berdua."

Si tukang sepatu ini menggiring tahanan malang yang gemetaran itu ke lapangan tengah, dimana keramaian orang berkumpul untuk menyaksikan hukuman mati itu. Si tukang sepatu menjajarkan kepala tahanan ke papan pemotong. Dia berdiri tinggi, tangannya disarung pedangnya. Menghadap keramaian, dia berkata:

"Biarlah Tuhan jadi saksi mataku: Saya bukanlah pembunuh. Bila lelaki ini memang salah sebagaimana yang dituduhkan, biarlah pedang saya sebagaimana adanya. Namun bila dia tidak bersalah, biarlah pedang saya berubah jadi kayu!"

Ditariknya pedangnya. Orang-orang terkejut tak percaya melihat yang keluar adalah hunusan kayu. Mereka berlutut menyaksikan mukzizat yang baru saja terjadi itu.

Sang raja, yang telah sedari awal ikut menyaksikan, datang mendekati situkang sepatu. Dipegangnya kedua tangannya dan menatapnya dalam ke matanya: "Saya adalah sang raja, dan juga saudaramu yang mengunjungimu terus beberapa hari ini. Saya ingin kamu datang hidup bersama saya diistana dan jadi penasehat saya. Ajarkanlah saya bagaimana untuk hidup seperti itu - satu hari per hari."

Lalu dihadapan semuanya, keduanya bernyanyi dan menari: "Bai-yum-dum, bai-yum-bai, yum-bai, bai...."

Sumber: Hasidic Stories
Diceritakan ulang oleh: Doug Lipman
Kembali Ke Atas Go down
The Sword of Wood - Pedang Kayu
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
KMB-USU :: Warung Kopi :: Kongkow Kongkow-